Selasa, 25 November 2014

Mendikbud Siap Perjuangkan Guru Honorer



JAKARTA, POSMETROGLOBAL,CO.ID—Kata berjawab, gayung bersambut demikianlah yang dilakukan Menteri Pendidikan Dasar-Menengah dan Kebudayaan (Mendikdasmenbud) Anies Baswedan soal pernyataan ketua BP PGRI kemarin yang meminta pemerintah untuk memperhatikan tenaga guru honorer, karena pemerintah melakukan moratorium PNS.
Menjawab pernyataan itu, menteri berjanji siap memperjuangkan kesejahteraan guru honorer. "Insya-Allah, bisa. Itu inisiatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) koordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB)," ujarnya setelah peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-69 PGRI di Jakarta, Selasa (25/11/2014).
Meskipun kesejahteraan guru PNS meningkat, tapi berbanding terbalik dengan kesejahteraan guru honorer. Sebagian besar guru honorer masih mendapat gaji sekitar Rp500.000 per bulan. Hal itu jauh dari pagu yang disebut sejahtera.
"Selama ini memang tidak ada pagunya untuk guru honorer," tambah dia.
Dalam kesempatan tersebut, Anies mengucapkan terima kasih atas pengabdian para guru di Tanah Air.
"Menjadi guru bukanlah pengorbanan. Menjadi guru adalah suatu kehormatan. Ibu dan bapak guru telah memilih jalan yang terhormat, memilih hadir bersama anak-anak pemilik masa depan," jelas dia.

Menurut Anies, pihaknya menyadari masih banyak tanggung jawab pemerintah pada guru yang belum ditunaikan dengan tuntas.
"Kita harus mengakui bahwa bangsa ini belum menempatkan guru sebagaimana seharusnya. Saya percaya, cara kita memperlakukan guru adalah cermin cara kita memperlakukan persiapan masa depan bangsa," terang dia.
Pemerintah di semua level harus menempatkan guru dengan sebaik-baiknya dan menunaikan secara tuntas semua kewajiban bagi guru. Pekerjaan rumah pemerintah, masih banyak mulai dari masalah status kepegawaian, kesejahteraan, dan lainnya. Anies mengajak semua masyarakat untuk turut bekerja sama untuk meningkatkan pendidikan di Tanah Air, karena masyarakat bukanlah penonton dalam pembangunan, melainkan juga pemain yang terlibat dalam pembangunan bersama semua elemen bangsa.

"Saya mengajak semua kalangan, mari terlibat untuk membantu sekolah, guru, madrasah, balai belajar dan taman belajar. Kita terlibat untuk mendorong kemajuan pendidikan," imbuh dia, seperti dilansir antaranews.com, kemarin. (***)

Senin, 24 November 2014

8 Alasan Jadi Guru itu Menyenangk an



Dalam hidup, semua orang melalui proses belajar dan mengajar. Di pekerjaan apapun, tanpa disadari Anda akan mengajari anak buah atau rekan kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Meski demikian, kenyataannya, tidak semua orang punya keinginan yang kuat untuk menjadikan guru sebagai profesi dalam hidup mereka.
Hal ini tentunya disebabkan oleh banyak faktor, antara lain gaji yang rendah, pekerjaan yang banyak, dan tekanan agar muridnya bisa mendapat nilai bagus dalam ujian.
Padahal sebenarnya, menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia. Di sisi lain, menjadi guru sebenarnya juga bisa menjadi pekerjaan yang paling 'memuaskan' hati. Dilansir dari Divine Caroline, berikut 10 alasan mengapa guru adalah profesi yang paling menyenangkan.
Membangkitkan semangat belajar
Ketika mengajari seseorang tentang sesuatu, mau tak mau Anda juga akan ikut belajar. Anda tak mungkin mengajari orang lain, jika tak menguasai bidang tersebut. Dengan demikian, dengan mengajar, semangat belajar dalam diri juga akan semakin bertambah. Nilai plusnya, Anda juga bertambah pandai.

Berpengaruh dalam kehidupan generasi mendatang
Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Generasi muda membutuhkan sosok orang yang bisa dijadikan panutan dalam hidup mereka. Selain orang tua, guru adalah orang yang terdekat dengan mereka di sekolah. Selain ilmu tinggi, murid-murid akan mencontoh perilaku baik dan bijak yang dimiliki para guru. Sebagai guru, secara tak langsung Anda juga berpengaruh dalam perilaku dan hidup mereka di masa depan.
Pekerjaan yang tak monoton
Dibanding dengan pegawai kantoran, guru memiliki pekerjaan yang lebih dinamis dan beragam. Setiap hari Anda akan terlibat dengan aktivitas yang berbeda-beda, termasuk dari ucapan lucu para murid, tingkah polah yang menggemaskan, sampai topik pelajaran yang berbeda.

'Bos' di kelas sendiri
Ketika pelajaran dimulai dan pintu kelas sudah ditutup, Anda adalah bos di ruang kelas Anda sendiri. Gurulah yang akan memutuskan apa yang akan terjadi hari itu, dari pelajaran yang akan dimulai, siapa yang akan maju mengerjakan soal di papan, sampai ujian dadakan. Tidak banyak pekerjaan yang memungkinkan Anda untuk bisa memberikan kebebasan seperti itu.
Lebih banyak waktu untuk keluarga
Kehidupan pekerjaan seharusnya bisa seimbang dengan kehidupan keluarga. Seorang pegawai kantoran biasanya mengalami kesulitan untuk punya waktu luang di hari kerja. Sedangkan guru, memiliki jam kerja yang lebih singkat, sesuai dengan jam anak bersekolah.
Waktu libur lebih lama
Seorang guru memiliki waktu libur yang lebih lama. Biasanya waktu libur mereka mengikuti jadwal libur murid-muridnya, misalnya di waktu libur Lebaran, dan libur semester.
Menyalurkan rasa cinta pada anak-anak
Ada banyak orang yang memiliki rasa sayang dan perhatian lebih besar pada anak-anak. Dengan menjadi guru, Anda bisa menyalurkan perasaan sayang ini dengan cara mengajari mereka untuk jadi orang yang lebih baik dalam perkembangan, kehidupan, dan kepandaian.
Hiburan saat suasana hati tak baik
Ada-ada saja tingkah atau perkataan dari murid-murid (khususnya murid TK dan SD) yang bisa memancing gelak tawa Anda. Anak-anak akan mengatakan banyak hal yang lucu dan polos. Mereka pun tak segan untuk mengungkapkan kata yang menyentuh perasaan, misalnya, perasaan sayang kepada guru. Demikian dikutip dari cnn Indonesia.com. (musniati)

Putra Putri Indonesia Jawara di Olimpiade Robot Dunia di Rusia

Jakarta - Bertambah lagi putra-putri negeri yang menyabet prestasi di negeri orang. Kali ini diraih Michael Sutanto (12) dan Natasha Emanuelle (13) menjadi jawara dalam 11th World Robot Olympiad Russia 2014 dalam kategori Elementary.
Dua Anak Baru Gede (ABG) dari Indonesia itu mengusung karya "Robot Roket Launcher". Michael dan Natasha layak jadi juara setelah juri menilai dari segi kreatifitas, timing dan perfect score.
"Michael dan Natasha berhasil mengalahkan tim tangguh lainnya, yakni dari Jepang, Korea, AS, Rusia, Thailand, Malaysia, dan negara-negara lainnya," demikian seperti rilis dari KBRI Moskow yang diterima, Senin (24/11/2014).
Orang tua yang turut mendampingi Michael dan Natasha juga sangat senang dan lega atas prestasi anaknya dan siap berkompetisi lagi tahun depan, yang nanti akan diadakan di Doha, Qatar. Padahal, orang tua sempat khawatir dengan keadaan Michael karena sejak kemarin diserang mimisan dan sakit perut.
"Keberhasilan Michael dan Natasha sangat membanggakan karena setelah menempuh perjalanan yang panjang dapat membawa medali emas untuk dihadiahkan kepada bumi pertiwi," ujar Junaedi, pimpinan rombongan Tim Mikrobot Indonesia.
Indonesia dalam kompetisi ini ikut dalam 5 kategori yang dipertandingkan dalam 11th World Robot Olympiad 2014, antara lain: a) Elementary (Rocket), b) Junior High (Sputnik), c) High School (Space Station), d) Open Category, dan e) Football (Robot Soccer). Peserta Indonesia sebanyak 14 orang yang datang untuk bertanding dalam 11th World Robot Olympiad Russia 2014. Indonesia diwakili oleh Tim Mikrobot Indonesia selaku national partner untuk World Robot Olympiad di Indonesia.
Sementara untuk kategori lainnya, yaitu kategori Junior High, High School, Open Category, dan Football, menjadi suatu capaian prestasi karena Indonesia berhasil masuk ke dalam Final Round, 16 besar dalam 11th World Robot Olympiad Russia 2014.
Olimpiade robot ini digelar pada 21-23 November di Kota Sochi, Rusia dan pengumuman pemenang berlangsung pada Minggu (23/11/2014) malam kemarin. Olimpiade Robot Dunia 2014 ini diikuti 58 negara dan sekitar lebih dari 3000 peserta, demikian dikutip dari detikcom. (musniati)

Minggu, 23 November 2014

Jadi guru Adalah Kehormatan



JAKARTA - -  Guru penuai wajah masa depan Indonesia, dan di ruang kelas itulah anak-anak dipersiapkan untuk menyongsong masa depan. Sebab itu, menjadi guru adalah suatu kehormatan.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jumat (21/11).
“Seiringan dengan rangkaian peringatan Hari Guru Nasional tahun 2014, izinkan saya memulai menyampaikan apresiasi kepada guru-guru kita di seluruh wilayah Indonesia yang telah mengabdi dengan sepenuh hati,” tutur Mendikbud.
Guru hadir di ruang kelas mewakili seluruh masyarakat Indonesia untuk mencerdaskan, mencerahkan, dan membawa anak bangsa kepada masa depan yang lebih baik.
Mendikbud menekankan, pendidikan tidak hanya diselesaikan oleh pemerintah, tetapi perlu adanya pendekatan gotong royong yang memungkinkan semua pihak untuk terlibat.
“Saya mengundang seluruh masyarakat untuk datangi guru-mu, cium tangannya, ucapkan terima kasih, dan tanya kabarnya. Karena guru kita yang mencerdaskan, sehingga kita mendapatkan peningkatan kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik,” pungkas Mendikbud, seperti dilansir antaranews.com. (***)

Pendidikan Multikultur Menjadi Salah Satu Perekat Kemajemukan



SAMARINDA- - Wakil Gubernur Kalimantan Timur HM Mukmin Faisyal HP mengatakan pendidikan multikultur menjadi salah satu perekat kemajemukan dan menghargai proses pengembangan semua potensi dan pluralitas serta heterogenitas masyarakat.
Melalui siaran pers yang diterima di Samarinda, Minggu, disebutkan pluralitas dan heterogenitas hendaknya menjadi kesadaran yang ditanamkan secara sistematis bagi para peserta didik bahwa sesama warga sama-sama memiliki hak untuk memperoleh pendidikan dan bebas menentukan pilihan pendidikan.

Pada pembukaan The 14th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS/Konferensi Kajian Ilmiah Mahasiswa Islam Internasional) di Balikpapan ia mengatakan pendidikan multikultur diharapkan mampu menempatkan diri peserta didik sebagai bagian dari keseluruhan dan bertanggungjawab menjaga keharmonisan dan kedamaian menuju kesejahteraan bersama.
Selain itu, katanya, pendidikan multikultur salah satu cara menyelamatkan krisis identitas kebudayaan. Multikultur sebagai fitrah tetap akan ada sepanjang zaman dan memiliki banyak kearifan yang diharapkan mampu bertahan dan tidak tertelan kultur global.
Ia mengatakan pendidikan multikultur merupakan sistem yang dapat menghargai, mengkonservasi dan melestarikan berbagai kultur demi keluhuran watak dan peradaban manusia, terutama dalam menghadapi masuknya kultur-kultur (budaya) pada era globalisasi saat ini.
"Melalui pendidikan multikultur maka berbagai pengaruh negatif yang terbawa arus globalisasi baik budaya dan informasi dapat disaring dengan tetap memuliakan pengaruh positif pada masing-masing kultur," ujarnya.
Dalam kesempatan itu Mukmin berharap konferensi mampu menghasilkan pemikiran dan formulasi jelas tentang implementasi pendidikan multikultural menurut konsepsi Islam baik dari sisi tujuan pendidikan, kurikulum, metodologi maupun evaluasi.
"Pengembangan pemikiran dan formula implementasi pendidikan multikultur hendaknya merujuk pada dalil-dalil yang tersurat maupun tersirat dalam Al Quran. Pada dasarnya, multikulturalisme sudah diserukan Islam baik untuk kedamaian maupun kerja sama antar umat beragama, ujar Mukmin.
Konferensi kajian ilmiah yang dibuka Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin digelar selama empat hari sejak 21-24 November diikuti 1.600 peserta dari mahasiswa IAIN seluruh Indonesia dan enam negara (Marokko, Mesir, Inggris, Belanda, Amerika Serikat, Australia, Malaysia dan Qatar), demikian dikutip dari antaranews.com.(***)